Select Language
Simple Search
Advanced Search
Title : Author(s) :
  • SEARCHING...
Publisher : Abstract/Note : Subject(s) :
  • SEARCHING...
ISBN/ISSN : GMD : Collection Type : Location :
Title Buruh Migran Pekerja Rumah Tangga Indonesia (TKW-PRT): Kerentanan dan dan Inisiatif-inisiatif Baru untuk Perlindungan Hak Asasi TKW-PRT: Laporan Indonesia Kepada Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Migran: Kuala Lumpur, 30 September -3 Oktober 2003
Edition
Call Number KAPAL Perempuan 331
ISBN/ISSN 979-9572-9-8
Author(s) Komnas Perempuan dan Solidaritas Perempuan - Personal Name
Subject(s) INDONESIA
BURUH MIGRAN
Classification
Series Title
GMD Text
Language Indonesia
Publisher Komnas Perempuan
Publishing Year 2003
Publishing Place Jakarta
Collation iv; 74 hlm; 21 cm
Abstract/Notes Keberadaan pekerja rumah tangga (PRT ) di kota-kota besar Indonesia dapat ditelusuri jauh ke belakang, melintasi masa kolonial ratu-san tahun lalu. Tidak demikian halnya dengan PRT asal Indonesia yang bekerja di luar negeri (TKW-PRT ), menurut kantor Depnakertrans, mereka baru muncul dalam elombang besar migrasi buruh pada akhir tahun 1970-an. ampai saat ini nasional belum memiliki data tentang PRT yang bekerja di Indonesia walaupun hampir setiap rumah tangga di kota-kota besar di Indonesia mempekerjakan minimal satu orang PRT. Kelangkaan data statistik ini terutama berkaitan dengan kenyataan bahwa PRT belum diakui sebagai angkatan kerja baik secara hukum maupun sosial. Data statistik TKW-PRT juga tidak tersedia secara khusus. Statistik Depnakertrans memasukkan mereka dalam kategori pekerja sektor informal, berbaur dengan jenis-jenis pekerjaan pelayanan lainnya seperti pelayan toko, petugas kebersihan dan lain lagi.Di Indonesia, baik pemerintah maupun masyarakat belum secara resmi menganggap pekerjaan rumah tangga sebagai aktifitas produksi. Pekerjaan ini lebih dinilai sebagai bagian dari pekerjaan perempuan di dalam rumah yang harus dilakukan sebagai pengabdian tanpa hitung-hitungan ekonomi. Di masyarakat Indonesia, terdapat kebiasaan yang bersifat eufimisme dalam menyebut PRT, seperti: Bibi, si-Mbok dan Mbak. Sebutan yang mengesankan adanya hubungan kekeluargaan tersebut sering meredusir realitas hubungan kerja antara PRT dengan majikan, menjadi hubungan sebuah keluarga yang (seolah-olah) penuh rasa hormat dan cinta. Dengan disebut sebagai anggota keluarga, hubungan kerja antara PRT dan majikan menjadi tidak terukur, proses ekploitasi yang ada di dalamnya pun menjadi kabur.

Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous