Select Language
Simple Search
Advanced Search
Title : Author(s) :
  • SEARCHING...
Publisher : Abstract/Note : Subject(s) :
  • SEARCHING...
ISBN/ISSN : GMD : Collection Type : Location :
Title Penghilangan Orang Dengan Paksa Atau Tidak Dengan Paksa Atau Tidak dengan Sukarela
Edition
Call Number KAPAL Perempuan 144 KON P
ISBN/ISSN
Author(s) Tim Kontras - Personal Name
Subject(s) POLITIK KEKERASAN
PENCULIKAN
Classification 144
Series Title
GMD Text
Language Indonesia
Publisher Konrad Adenauer Stiftung
Publishing Year 2004
Publishing Place Jakarta
Collation 47 HLM; 15 CM
Abstract/Notes Dalam UU No. 26 tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM disebutkan bahwa Penghilangan Orang Secra Paksa (Enforced or Involuntary Disappearances) adalah salah satu bentuk Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Crimes Against Humanity). Sebagai bentuk dari Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, tanggung jawab negara adalah menggelar pengadilan dan menghukum pelakunya. Untuk selanjutnnya memenuhi hak-hak para korban dan keluarganya atas rehabilitasi, restitusi dan kompensasi. Hal ini juga diamanatkan pada Pasal 24 ayat 1, Rancangan Konvensi Anti Penghilangan Paksa yang diadopsi oleh Komis HAM PBB tahun 1998. untuk meastikan agar tindakan penghilangan orang secara paksa tidak terjadi, maka Pasal 7 Deklarasi PBB untuk Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa (1992) menyebutkan, “Tidak ada keadaan apapun, apakah ancaman perang, keadaan perand dan instabilitas dalam negeri yang membolehkan terjadinya tindak penhilangan paksa.”

Perhatian khusus yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap kasus penghilangan orang secara paksa ini tak bisa dilepaskan dari dampak yang sangat keji yang ditimbulkannya. Tidak hanya bagi korban yang hilang (korban langsung), tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat yang ditinggalkannya (korban tidak langsung). Bagi korban langsung. Tindakan ini secra sekaligus merampas 4 (empat) hak dasar manusia, yaitu hak atas kebebasan dan rasa aman, hak untuk diperlakukan sama di depan hukum, hak untuk tidak disiksa dan hak untuk hidup, bagis yang ditinggalkan, mereka mengalami siksaan psikologis berupa penantian dan ketidakpastian yang terus berkelanjutan.
Specific Detail Info
Image
File Attachment
LOADING LIST...
Availability
LOADING LIST...
  Back To Previous